Ketika Luka, Masa Lalu, dan Perjalanan Datang Bersamaan
Ada beberapa novel yang terasa seperti perjalanan panjang. Bukan cuma karena jumlah halamannya, tapi karena emosi di dalamnya ikut naik turun sampai selesai dibaca. Pergi karya Tere Liye jadi salah satu buku yang rasanya seperti itu buatku.
Jujur, setelah membaca Pulang, ekspektasiku ke buku ini cukup tinggi. Dan untungnya, Pergi masih berhasil mempertahankan atmosfer khas dunia Bujang yang penuh konflik, strategi, dan kesepian yang entah kenapa selalu terasa dingin. Tapi di sisi lain, novel ini juga terasa lebih emosional dan lebih personal.
Data Buku
Judul: Pergi
Penulis: Tere Liye
Genre: Action, drama, petualangan
Tahun Terbit: 2018
Novel ini masih berfokus pada perjalanan hidup Bujang setelah berbagai peristiwa besar yang terjadi sebelumnya. Kali ini, konflik yang dihadapi terasa lebih luas dan lebih kompleks. Tidak hanya tentang perebutan kekuasaan atau bisnis gelap, tetapi juga tentang kehilangan, balas dendam, dan keputusan-keputusan yang harus diambil ketika keadaan tidak lagi bisa dikendalikan.
Salah satu hal yang paling aku sukai dari Pergi adalah atmosfer ceritanya. Tere Liye berhasil membangun suasana yang tenang sekaligus menegangkan dalam waktu bersamaan. Ada banyak adegan action, tetapi emosi para tokohnya tetap terasa menjadi pusat cerita.
Karakter Bujang juga terasa berkembang di novel ini. Ia masih menjadi sosok yang tenang, cerdas, dan sulit ditebak, tetapi sisi emosionalnya mulai lebih terlihat. Beberapa bagian bahkan terasa cukup personal dan membuat karakternya terasa lebih manusiawi.
Selain itu, hubungan antar tokoh dalam novel ini juga ditulis dengan cukup baik. Tidak semua perasaan dijelaskan secara langsung, tetapi justru terasa melalui percakapan singkat dan tindakan kecil. Menurutku pendekatan seperti ini membuat emosinya terasa lebih natural.
Salah satu kutipan yang paling membekas bagiku adalah:
“Kadang, pergi adalah satu-satunya cara untuk kembali.”
Kalimatnya sederhana, tetapi setelah mengikuti keseluruhan perjalanan ceritanya, maknanya terasa lebih dalam.
Dari segi alur, novel ini berjalan cukup cepat dan hampir selalu menghadirkan konflik baru di setiap bagian. Ada beberapa momen yang terasa menegangkan, tetapi di sisi lain tetap menyisakan suasana emosional yang khas. Rasanya seperti membaca novel action yang diam-diam menyimpan banyak kesedihan.
Meski begitu, ada beberapa bagian yang menurutku sedikit terlalu nyaman untuk karakter utamanya. Beberapa konflik terasa sudah bisa ditebak penyelesaiannya karena Bujang hampir selalu memiliki jalan keluar. Namun secara keseluruhan, hal itu tidak terlalu mengganggu pengalaman membaca.
Rating
⭐ 4.6/5
Menurutku, Pergi cocok untuk pembaca yang menyukai novel dengan konflik kuat, karakter yang kompleks, dan suasana cerita yang emosional tanpa terasa berlebihan. Jika kamu menikmati cerita tentang perjalanan, kehilangan, dan pencarian makna “pulang”, novel ini sangat layak untuk dibaca.
Kalau tertarik membaca Pergi, aku juga taruh link pembeliannya di bawah ya:

Komentar
Posting Komentar